Iklan

Pordes Jadi Panggung Kebersamaan, Kades Lubang Buaya Serukan Pemerintah Tambah Sekolah

foto istimewa 


tribatimes.com - Kabupaten Bekasi - Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa berbeda di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Minggu (9/8/2026).

Ratusan warga memadati halaman Kantor Desa Lubang Buaya Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi di Jalan Desa Lubang Buaya. Di tengah kemeriahan penyerahan hadiah bagi para juara Pekan Olahraga Desa (Pordes), muncul persoalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat: keterbatasan sekolah negeri di tengah jumlah penduduk yang terus bertambah.

Kegiatan tersebut menjadi momentum Pemerintah Desa Lubang Buaya untuk merayakan kemerdekaan sekaligus menyampaikan sejumlah persoalan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Penyerahan penghargaan diberikan kepada para atlet dan tim yang berlaga dalam sejumlah cabang olahraga, di antaranya voli putra, voli putri, dan sepak bola.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Lubang Buaya Maulana Yusuf atau yang akrab disapa Yosep, Sekretaris Desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, Karang Taruna, jajaran panitia turnamen, serta masyarakat Desa Lubang Buaya.

Dalam sambutannya, Yosep menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan rangkaian turnamen hingga berjalan aman, tertib, dan lancar.

“Alhamdulillah, dari ketua panitia cabang olahraga voli putra dan putri maupun ketua panitia sepak bola serta panitia lainnya sudah menyampaikan laporan. Tentunya ini menjadi suatu kebanggaan bagi kami Pemerintahan Desa Lubang Buaya kepada seluruh ketua panitia yang sudah menyelenggarakan turnamen tersebut dengan sebaik-baiknya dan berjalan lancar,” ujar Yosep.

Di Tengah Tahun Politik, Pordes Tetap Digelar

Penyelenggaraan Pordes tahun ini bukan tanpa tantangan. Desa Lubang Buaya tengah memasuki tahapan politik dengan akan digelarnya Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2026.

Yosep mengakui, dirinya harus membagi perhatian antara agenda olahraga desa dengan persiapan Pilkades, termasuk pembentukan dan pelaksanaan tugas panitia pemilihan.

“Untuk tahun ini, turnamen perlu kita rembukkan dengan rekan-rekan. Sehubungan sekarang sudah masuk tahun politik, saya pun harus mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk ketua panitia pemilihan kepala desa. Panitia juga harus menjalankan tugas-tugasnya,” katanya.

Namun, pertimbangan terhadap keberlangsungan pembinaan generasi muda membuat Pordes tetap dilaksanakan.

Menurut Yosep, para atlet telah menunggu agenda olahraga tersebut setiap Agustus. Karena itu, meski bertepatan dengan persiapan Pilkades, ia memilih tetap mempertahankan Pordes sebagai wadah aktivitas positif masyarakat.

“Saya kembali berpikir, kalau turnamen ditiadakan, bagaimana dengan para atlet? Setiap tahun mereka menunggu Pordes diselenggarakan di bulan Agustus. Bagi saya, tidak masalah, walaupun sebenarnya saya juga harus mempersiapkan diri menjelang Pilkades tahun 2026 ini,” ungkapnya.

Bagi Pemerintah Desa Lubang Buaya, Pordes bukan sekadar ajang perebutan trofi. Turnamen menjadi ruang interaksi warga sekaligus sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat, membangun sportivitas, dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat.

Semangat tersebut dinilai semakin relevan karena Desa Lubang Buaya akan menghadapi agenda Pilkades pada tahun yang sama.

Warga Diminta Tidak Golput di Pilkades

Dalam kesempatan itu, Yosep juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan hak pilih dalam Pilkades yang dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026.

Ia meminta warga tidak bersikap apatis terhadap proses demokrasi di tingkat desa.

“Harapan saya bagi seluruh warga masyarakat, khususnya di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, ingat tanggal 20 September nanti. Semuanya ajak keluarga dan tetangga untuk bersama-sama datang ke TPS yang sudah disediakan panitia Pilkades, agar suara yang masuk dapat mencapai maksimal,” tegasnya.

Menurutnya, tingkat partisipasi masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam menentukan arah kepemimpinan Desa Lubang Buaya ke depan.

Di penghujung sambutannya, Yosep menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang hadir dan mendukung seluruh rangkaian kegiatan. Ia juga mendoakan Ketua BPD Lubang Buaya yang tengah sakit agar segera memperoleh kesembuhan.

Bukan Hanya Soal Olahraga, Persoalan Sekolah Jadi Sorotan

Usai kegiatan, persoalan lain yang selama ini menjadi keluhan warga kembali mencuat, yakni sulitnya anak-anak Desa Lubang Buaya memperoleh akses ke sekolah negeri.

Yosep mengungkapkan, keluhan tersebut hampir selalu muncul setiap memasuki musim penerimaan peserta didik baru. Persoalannya bukan semata sistem zonasi, melainkan juga keterbatasan daya tampung sekolah dibandingkan jumlah penduduk.

“Kependudukan di Desa Lubang Buaya ini termasuk paling banyak dari 11 desa di Kecamatan Setu. Selain Desa Burangkeng, Lubang Buaya jumlah penduduknya paling besar dengan jumlah 25.093 jiwa,” ujar Yosep kepada awak media.

Ironisnya, jumlah penduduk yang besar tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan sarana pendidikan yang memadai.

Saat ini, Desa Lubang Buaya disebut hanya memiliki satu SMP negeri, satu SMA negeri, dan dua SD negeri.

Kondisi tersebut membuat sebagian lulusan tidak tertampung ketika memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

“Jadi setiap kelulusan, banyak warga yang tidak tertampung di sekolah tersebut. Akhirnya mereka mengadu ke kami pihak desa agar anaknya bisa masuk sekolah negeri,” jelasnya.

Persoalan itu, kata Yosep, tidak boleh dibiarkan berulang setiap tahun. Pemerintah daerah dinilai perlu melihat persoalan pendidikan di Desa Lubang Buaya dari perspektif pertumbuhan penduduk dan kebutuhan jangka panjang.

Usulkan Tukar Guling TKD untuk Sekolah dan Lapangan

Untuk mencari solusi, Yosep mengusulkan adanya skema tukar guling aset Tanah Kas Desa (TKD) milik Desa Lubang Buaya yang berada di Kecamatan Sukawangi.

Ia berharap lahan tersebut dapat ditukar dengan lahan yang berada lebih dekat dengan pusat permukiman Desa Lubang Buaya untuk dibangun fasilitas publik, khususnya sekolah dan sarana olahraga.

“Saya berharap kalau bisa tanah TKD Desa Lubang Buaya yang lokasinya ada di Kecamatan Sukawangi bisa ditukar guling untuk lahan Sarana Olahraga (lapangan bola) maupun sekolah,” ucapnya.

Menurut Yosep, lahan TKD yang berada di Sukawangi saat ini dinilai kurang produktif karena lokasinya cukup jauh dari wilayah Desa Lubang Buaya.

“Tanah TKD kita di Sukawangi toh juga lahannya tidak produktif dan jaraknya jauh dari desa. Kalau dekat saya akan ajukan untuk pembangunan sekolah SMP dan SMA serta lapangan sepak bola,” ujarnya.

Bagi Yosep, pembangunan sekolah baru bukan sekadar kebutuhan tambahan fasilitas pendidikan. Keberadaan sekolah negeri yang lebih memadai dinilai menjadi kebutuhan mendesak seiring besarnya jumlah penduduk Desa Lubang Buaya.

Ia mengaku prihatin karena persoalan yang sama terus berulang setiap tahun. Saat pendaftaran sekolah dibuka, masyarakat kembali menghadapi persoalan daya tampung dan akses masuk sekolah negeri.

“Harapan saya kepada Pemerintah Daerah maupun pusat, semoga menambah sekolah di Desa Lubang Buaya. Kita menimbang banyaknya jumlah penduduk kita. Dan bisa tukar guling lahan TKD di Sukawangi dipindah ke Desa Lubang Buaya,” pungkasnya.

Reporter Catur Sujatmiko 

LihatTutupKomentar