tribatimes.com - Kabupaten Bekasi - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kabupaten Bekasi di panggung internasional. Di usia yang baru menginjak delapan tahun, Atha Fathurrahman, siswa kelas 2 SDN Waluya 02, Kecamatan Cikarang Utara, berhasil menyabet penghargaan Gold dalam Kompetisi ADEPT (Achievement in Diverse Educational Progress and Talent) Competition Olympiad 2025/2026 bidang Matematika di Kuala Lumpur, Malaysia.
Prestasi tersebut bukan sekadar menjadi kebanggaan bagi keluarga. Capaian Atha juga menjadi bukti bahwa potensi akademik anak-anak di Kabupaten Bekasi mampu bersaing dalam kompetisi internasional ketika mendapatkan ruang, pendampingan, dan dukungan yang tepat.
Kompetisi ADEPT Competition Olympiad National Round 2025/2026 merupakan rangkaian seleksi yang diikuti peserta dari jenjang TK hingga SMA/K dari berbagai negara untuk memperoleh kesempatan melaju ke Global Round.
Atha mengikuti kompetisi di bidang Matematika dan berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga meraih penghargaan Gold pada babak final yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Mei 2026.
Bagi Atha, momen pengumuman pemenang menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Ia mengaku sempat menahan haru ketika namanya belum juga disebut hingga akhirnya diumumkan sebagai peraih juara pertama.
“Senang. Waktu nama saya belum dipanggil, mulai dari juara Honorable Mention, juara dua, sampai akhirnya nama saya dipanggil, juara 1, saya sempat keluar air mata,” ujar Atha saat ditemui di SDN Waluya 02, Kecamatan Cikarang Utara, Jumat (7/8/2026).
Tak hanya membawa pulang penghargaan Gold, Atha juga memperoleh kategori Diamond dalam babak final tersebut. Kategori itu diberikan berdasarkan capaian jawaban peserta yang mencapai sekitar 90 persen benar.
“Untuk yang final di Malaysia kemarin, dia mendapatkan dua kategori, satu Gold dan satu Diamond. Diamond itu diberikan untuk penilaian jawaban yang mencapai 90 persen benar,” ungkap Rahman, ayah Atha.
Berawal dari Minat, Berlanjut ke Kompetisi Internasional
Perjalanan Atha hingga mampu berdiri di podium internasional tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum berlaga di Malaysia, ia harus melewati sejumlah tahapan kompetisi dan seleksi.
Menurut Rahman, awalnya Atha mengikuti pembelajaran tambahan di sebuah lembaga pendidikan. Dari sana, Atha mendapatkan beasiswa sekaligus kesempatan mengikuti berbagai kompetisi matematika secara daring.
Kompetisi tersebut menjadi proses pembentukan kemampuan sekaligus mental bertanding Atha. Ia harus melewati babak penyisihan dan final sebelum akhirnya memperoleh kesempatan tampil di ajang internasional.
“Awalnya kami ikut les di sebuah lembaga, kemudian Atha mendapatkan beasiswa. Dari sana dia mengikuti berbagai lomba secara online yang memang sudah masuk taraf internasional. Ada babak penyisihan dan final, jadi tidak langsung ikut kemudian mendapatkan juara,” jelas Rahman.
Pada babak final di Malaysia, Atha harus berhadapan dengan peserta dari berbagai negara. Di tengah persaingan tersebut, siswa kelas 2 SDN Waluya 02 itu mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Bagi keluarga, capaian tersebut menjadi buah dari proses panjang yang telah dijalani Atha sejak usia dini.
Menariknya, kecintaan Atha terhadap matematika tumbuh secara alami. Orang tua tidak pernah memaksanya mengikuti kompetisi.
Rahman mengatakan, keluarga justru berusaha membaca minat anak dan memberikan wadah agar ketertarikan tersebut berkembang.
“Kami sebagai orang tua tidak pernah memaksa. Awalnya dia tertarik dengan planet dan benda-benda bulat, kemudian mulai tertarik dengan negara dan dari situ mulai suka berhitung. Kami melihat minatnya, lalu kami carikan wadah yang sesuai,” tuturnya.
Bahkan, Atha telah mengenal dunia kompetisi matematika sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Pada salah satu kompetisi nasional, ia memang belum langsung menjadi juara utama dan hanya memperoleh juara harapan.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dalam perjalanan Atha.
“Dari TK dia sudah ikut lomba matematika nasional. Memang waktu itu baru mendapatkan juara harapan, tetapi kami melihat memang sudah ada bakat dan ketertarikan. Ketika mendapatkan kesempatan melalui Olympic Champ, Alhamdulillah bakatnya bisa tersalurkan,” kata Rahman.
Sekolah Dorong Disiplin dan Keberanian Berprestasi
Prestasi Atha mendapat apresiasi dari SDN Waluya 02. Kepala SDN Waluya 02, Eber, menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya membangun karakter disiplin sekaligus memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Menurut Eber, prestasi tidak hanya lahir dari kemampuan akademik. Kedisiplinan menjadi salah satu fondasi penting yang terus ditanamkan sekolah kepada para siswa.
“Kalau ingin berprestasi, ya harus disiplin. Kalau ingin menjadi orang baik juga harus disiplin. Disiplin menjadi salah satu program sekolah dan kami terus menanamkan itu kepada anak-anak,” tegas Eber.
Pihak sekolah juga berupaya memberikan dukungan terhadap siswa yang memiliki prestasi di berbagai bidang sesuai dengan kemampuan yang tersedia.
Tak berhenti pada pemberian apresiasi, sekolah berencana memperkenalkan capaian Atha kepada warga sekolah. Langkah tersebut diharapkan dapat memunculkan inspirasi sekaligus memotivasi siswa lain untuk berani mengembangkan kemampuan masing-masing.
“Kami sangat mengapresiasi dan sangat luar biasa atas prestasi Atha. Ke depan, Atha dan siswa kami yang berprestasi lainnya akan kami perkenalkan di lingkungan sekolah. Tujuannya untuk mendorong anak-anak lain dan para orang tua agar semakin termotivasi,” pungkas Eber.
Prestasi Atha menjadi catatan tersendiri bagi dunia pendidikan Kabupaten Bekasi. Di tengah usia yang masih sangat muda, ia telah membuktikan bahwa ruang untuk berkompetisi dan dukungan terhadap minat anak dapat membuka jalan menuju panggung yang lebih luas.
Dari ruang kelas SDN Waluya 02, Atha membawa nama Kabupaten Bekasi hingga ke Kuala Lumpur. Medali emas itu bukan hanya simbol kemenangan, tetapi juga penanda bahwa bibit-bibit unggul daerah memiliki potensi untuk bersaing di level internasional.
Catur Sujatmiko

