tribatimes.com - Kabupaten Bekasi - Islam Sebagai Agama mayoritas penduduk Indonesia merupakan pilar utama dan Strategis dalam proses terbentuknya Negara Persatuan Republik Indonesia.
Bangsa Indonesia mengakui bahwa keber adaan Negara ini adalah Berkat Rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
Ini tercantum dalam Pembukaan UUD 1945,
Islam dan umat Islam sebagai Pemersatu masyarakat pra-kemerdekaan
Sebelum ada Indonesia. Nusantara terpecah belah jadi ratusan kerajaan dan kesultanan. Jaringan ulama, pesantren, dan organisasi Islam sebut Sarekat Islam, Muhammadiyah dan NU jadi wadah pergerakan nasional. Mereka menyebarkan ide persatuan "Indonesia" jauh sebelum 1945.
Mobilisasi perlawanan terhadap kolonial
Banyak perlawanan lokal dengan adegium perang sabil/perang jihad melawan Belanda dan Jepang. Perang Diponegoro, Perang Aceh, dan perlawanan di Banten digerakkan ulama dan santri. Semangat ini jadi bahan bakar nasionalisme.
Tidak kalah pentingnya Peran BPUPKI dan PPKI 1945
Tokoh Islam seperti KH Wahid Hasyim, KH Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo ikut merumuskan dasar negara. Awalnya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 mencantumkan "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya". 18 Agustus 1945 frasa itu dihapus demi menjaga persatuan dengan kelompok nasionalis dan non-Muslim. Kompromi itu yang bikin Sila 1 jadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".
Lantas Setelah merdeka
Islam tetap jadi identitas mayoritas penduduk. Hukum keluarga Islam masuk dalam Kompilasi Hukum Islam. NU dan Muhammadiyah tetap jadi ormas besar yang ngurus pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Indonesia bukan negara Islam, tapi juga bukan negara sekuler. Logika Empirik Bangsa Indonesia memahami bahwa kekuatan spiritual dan kesadaran kolektif berperan pada pembentukan Negara Sebagai kebangsaan dengan dasar Pancasila. Peran Islam lebih ke "pengaruh kultural dan politik" yang kuat, bukan sebagai sistem pemerintahan tunggal.
Jadi kalau dibilang "bagian terpenting", tepatnya: Islam adalah salah satu kekuatan pendorong utama persatuan, perlawanan, dan perumusan ide Indonesia. Tanpa peran ulama dan umat Islam, jalan menuju 1945 akan beda ceritanya.
Catatan KH Ronggosutrisno Tahir (Pernah Pimpinan Redaksi Majalah Presisi Hukum POLRI).

