tribatimes.com - Kabupaten Bekasi - Kondisi memprihatinkan terlihat di area belakang Kantor Kecamatan Cikarang Utara. Sebuah gedung serbaguna yang seharusnya menjadi fasilitas publik justru terbengkalai dan terendam air, tanpa kejelasan perbaikan hingga kini.
Saat awak media menyambangi Kantor Kecamatan Cikarang Utara, tampak para pegawai Kecamatan bahu-membahu membersihkan area Kantor Kecamatan kegiatan tersebut disebut Jumat bersih-bersih. Namun, perhatian justru tertuju pada kondisi gedung serbaguna di bagian belakang kantor yang terlihat tidak terurus dan digenangi air selama bertahun-tahun.
Camat Cikarang Utara, Enop Can, mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya telah berulang kali mengajukan perbaikan gedung tersebut melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun hingga kini, usulan tersebut belum juga terealisasi.
“Sudah diajukan Musrenbang setiap tahun, mulai dari 2023, 2024, 2025 hingga 2026, tetapi belum kunjung mendapatkan realisasi. Mungkin karena keterbatasan anggaran,” ujar Enop kepada awak media pada Jumat 17/04
Ia berharap pada tahun ini ada perhatian serius dari pemerintah daerah agar gedung tersebut dapat segera diperbaiki dan dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
“Saya berharap di tahun ini dapat terealisasi sehingga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Kabupaten Bekasi, Mariam, turut menyoroti kondisi tersebut. Ia menilai pemerintah daerah perlu lebih jeli dalam menentukan skala prioritas pembangunan.
“Seharusnya pemerintah daerah melihat mana yang menjadi skala prioritas. Gedung serbaguna ini jelas dibutuhkan masyarakat. Kalau dibiarkan seperti ini, justru terkesan mubazir dan tidak ada manfaatnya,” tegas Mariam.
Ia pun berharap agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki fasilitas tersebut agar dapat kembali digunakan sebagaimana mestinya.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah kebutuhan masyarakat akan fasilitas publik yang layak. Gedung serbaguna yang semestinya menjadi pusat kegiatan warga kini justru menjadi simbol terbengkalainya pembangunan yang belum tersentuh realisasi," tutupnya (Catur Sujatmiko)

