Iklan

Usai Viral Naman, Mak Enah dan Anak Disabilitas Rohmat di Sarimukti, FWJI Kembali Temukan Lansia Hidup Tanpa WC dan Air Bersih


tribatimes.com - Kabupaten Bekasi - Sorotan publik terhadap Rumah yang tak layak huni di Sarimukti, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, tampaknya belum berakhir. Setelah kisah pasangan lansia Naman (65) dan Mini (59), Mak Enah, serta anak perempuan penyandang disabilitas putri Rohmat yang mengundang empati luas dan mendapat perhatian berbagai pihak, kini kembali terungkap fakta yang tak kalah memprihatinkan.

Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Kabupaten Bekasi kembali menemukan warga yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Ironisnya, mereka belum memiliki rumah layak huni, fasilitas sanitasi, bahkan akses air bersih yang memadai.

Temuan tersebut diperoleh saat Ketua FWJI Korwil Kabupaten Bekasi, Mariam, bersama jajaran melakukan peninjauan langsung ke Kampung Wates, Desa Sarimukti, Jumat (10/7/2026), setelah menerima laporan dari warga masyarakat Sarimukti.

Di lokasi pertama, tepatnya di Kampung Wates RT 001 RW 013, FWJI mendapati pasangan Pungut atau akrab disapa Bewok (80) bersama istrinya, Mida (50), hidup bersama dua anaknya di sebuah rumah yang kondisinya dapurnya nyaris roboh.

Bangunan yang mereka tempati terlihat rapuh dimakan usia. Atap bocor, dinding mulai lapuk, dan struktur rumah tampak mengkhawatirkan. Setiap kali hujan deras maupun angin kencang datang, keluarga tersebut dihantui rasa takut rumah yang mereka tempati ambruk sewaktu-waktu.

Yang lebih menyedihkan, keluarga itu hingga kini belum memiliki kamar mandi maupun WC. Untuk mandi dan buang air besar, mereka terpaksa memanfaatkan aliran kali di sekitar permukiman dan numpang ke tetangga. Sementara kebutuhan air bersih sehari-hari diperoleh dengan meminta kepada tetangga.

Di usia senjanya, Pungut masih harus bekerja serabutan demi mempertahankan hidup keluarganya.

"Saya kerja serabutan, kadang ada pekerjaan, kadang tidak ada. Dulu kami punya tujuh ekor kambing, tapi semuanya dicuri dari kandang," ujar Pungut dengan nada lirih.

Dengan mata berkaca-kaca, pria berusia 80 tahun itu hanya memiliki satu harapan.

"Saya memohon kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi agar membantu membangunkan rumah kami. Rumah ini sudah lapuk dimakan usia. Kalau hujan atau angin kencang kami selalu khawatir," ucapnya.

Usai meninjau rumah Pungut, rombongan FWJI melanjutkan kunjungan ke Kampung Wates RT 002 RW 009.

Di lokasi kedua, pemandangan yang terlihat tidak kalah menyayat hati. Seorang perempuan lanjut usia bernama Ibu Bona (70) menjalani hari-harinya seorang diri di rumah sederhana.

Ibu Bona mengalami kelumpuhan sehingga aktivitas sehari-harinya hanya dilakukan dengan cara merangkak atau ngesot di dalam hingga ke halaman rumah.

Tetangganya, Inisial Ni mengungkapkan bahwa Ibu Bona kini hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal dunia.

"Ibu Bona sekarang tinggal sendiri. Dulu tinggal bersama suaminya, tetapi suaminya sudah meninggal dunia," kata Ni

Menurutnya, kondisi fisik membuat aktivitas Ibu Bona sangat terbatas.

"Sehari-harinya beliau hanya di rumah. Kadang ngesot sampai keluar rumah," tuturnya.

Melihat kenyataan tersebut, Ketua FWJI Korwil Kabupaten Bekasi, Mariam, meminta Pemerintah Kabupaten Bekasi tidak menunggu persoalan ini kembali viral untuk bergerak.

Menurutnya, Dinas Sosial, Pemerintah Desa Sarimukti, BAZNAS, serta instansi terkait harus segera turun ke lapangan melakukan pendataan sekaligus memberikan penanganan yang cepat dan konkret.

"Ini bukan sekadar persoalan kemiskinan, tetapi menyangkut hak dasar warga negara. Mereka berhak memiliki rumah yang layak, sanitasi yang sehat, akses air bersih, dan perlindungan sosial. Negara harus hadir sebelum kondisi mereka semakin memburuk," tegas Mariam.

FWJI menilai masih ditemukannya warga yang hidup tanpa WC, tanpa air bersih, dan tinggal di rumah yang nyaris roboh menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan.

Di tengah geliat pembangunan Kabupaten Bekasi, potret kehidupan Pungut dan Ibu Bona menjadi ironi yang tidak boleh diabaikan. Mereka bukan sekadar angka dalam data kemiskinan, melainkan wajah nyata masyarakat yang masih menunggu kehadiran pemerintah.

Reporter Catur Sujatmiko 
LihatTutupKomentar